Home














     Di bangun diantara tahun 1813 – 1827 jauh sebelum Perang Dunia Pertama atau Perang Besar terjadi di Eropa yang berlangsung dari 28 Juli 1914 ke 11 November 1918.
     Dalam arsitektur umum “Rumah Panggong  Yasmin Homestay” mencerminkan arsitektur Melayu khas asli seperti yang ditemukan di daerah sepanjang pantai Sumatera dan Malaka.
     Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman.
     Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta buka-an banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam kedalam tanah.
     Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas karena pengaruh dari daerah Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini terpancung.
     Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung.
     Dalam jangka waktu lebih dari 203 tahun,  "Rumah Panggong" ini telah beberapa kali berganti pemilik serta mengalami beberapa perbaikan dari generasi ke generasi hingga  jatuh haknya kepada almarhum ‘Pak Husni’ ayah dari keluarga: Ibu Yanti, Bapak. Eddy Arif  dan Bapak. Zainal Arifin.

     Menurut cerita dari mulut ke mulut orang orang dan tetua dikampung meskipun telah mengalami beberapa perbaikan tapi bentuk serta pilar utama rumah panggong ini masih bertahan dengan bahan asli kali ia dibangun.